PLTU Celukan Bawang – Bali

Rencana dibangun diatas lahan seluas 40 hektar – AMDAL 2007-, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara Celukan Bawang, di Kabupaten Buleleng Bali, diproyeksikan akan menghasilkan 780 MW dari 6 unit pembangkit. Mulai dibangun pada 2013, unit 1-3 telah beroperasi pada 2015 dengan kapasitas yang dihasilkan 380 MW. PLTU ini dibangun oleh PT. General Energy Bali (GEB), perusahaan bernama lokal yang berstatus PMA (Penanaman Modal Asing). Berdasarkan dokumen resmi perusahaan, PT. GBE saham mayoritasnya dimiliki oleh China Huadian Engineering Co. Ltd (China), lalu Meryline International PTE Ltd (Singapore) dan PT. General Energy Indonesia.

Proyek pembangunan PLTU Celukan Bawang sesungguhnya direncanakan sejak 2004, AMDAL proyek pun telah ada pada 2007. Berbagai persoalan menghambat pembangunan sejak mula. Salah satu masalah yang mendera perjalanan pembangunan yang cukup menyita waktu, dugaan terhadap direktur PT. GBE. Tjandra Limanjaya dan istrinya, Irnawati Sutanto, atas dugaan melakukan pemalsuan surat dan pencucian uang kepada kreditor, Morgan Stanley, guna membiayai proyek pembangunan PLTU Celukan Bawang.

Sayangnya, proyek senilai 700 Juta USD itu, justru akan menggantikan pembangkit listrik yang sedkit lebih ramah ketimbang batubara yakni PLTGU. Walau PLTU Celukan Bawang akan memenuhi 40 persen kebutuhan Bali, namun beresiko terhadap masyarakat sekitar dan tentu terhadap pemanasan iklim.

General Energy Bali adalah Indepedence Power Producer (IPP) yang telah menyepkati PPA (Power purchase Agremeent) selama 30 tahun dengan PLN. Diawal-awal berdirinya, tercatat ada nama Anggota DPR Fraksi partai Demokrat sebagai Vice President, sebagaimana juga tertuang dalam riwayat pekerjaan anggota dewan tersebut.

PLTU Celukan Bawang, diduga menggunakan tenaga kerja ilegal berasal dari China. Tak hanya saat pembangunan pembangkit, juga pada saat operasional saat ini.

Pasokan Batubara PLTU Celukan Bawang berasal dari PT Karunia Indonusa dan PT Royal Borneo yang berlokasi di Bulungan dengan volume 245.982 metrik ton/bulan. PT Karunia Indonusa merupakan Perusahaan penyuplai batubara yang dalam proses eksploitasi yang masuk pada IUP Non CNC dengan luas 4.965,95 Ha. Perusahaan penyuplai batubara lainnya, PT Royal Borneo memiliki luas 4.421,36 Ha dengan status IUP CNC dalam proses eksloitasi.

Pembiayaan pembangunan PLTU Celukan bawang menggunakan dana pinjaman dari China Bank Development dan China Huadian Engineering Co, Ltd (CHEC) sebagai pengembang. CHEC merupakan perusahaan pengembangan asal China yang bergerak pada teknik industri dan teknologi yang diterapkan pada bidang konstruksi dan layanan proyek di industri tenaga listrik pelabuhan, pertambangan, hingga rekayasa energi baru.

Pembangunan PLTU ini menggunakan areal lahan seluas 40 Hektar yang digunakan untuk pembangunan pembangkit hingga mess karyawan. Namun baru 29 Hektar yang menjadi kepemilikan perusahaan. Sebelumnya, lahan itu produktif dengan komoditas tanaman kelapa dan mangga. Pemilik lahan ini disebut-sebut belum menyerahkan tanah mereka karena investor menawar tanah itu dengan harga murah.