Production

Indonesia berada di urutan ke-10 negara dengan cadangan batubara terbesar di dunia, dengan cadangan terbukti porsi 2,2% dari cadangan dunia atau sebesar 22.598 juta ton. Meski begitu, produksi batubara Indonesia menempati urutan ke-5 di dunia dan eksportir batubara terbesar ke-2 di dunia. Kondisi ini menunjukkan Indonesia melakukan exploitasi besar-besaran terhadap batubara.

Perencanaan produksi batubara tertuang dalam dokumen Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), RUEN memandatkan pengendalian produksi dan pengurangan ekspor secara bertahap, hingga penghentian ekspor jika kebutuhan domestik telah mencapai angka 400 juta ton. Hal ini sejalan dengann Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 yang membatasi produksi dan ekspor batubara dan mengutamakan pasokan batubara untuk kebutuhan domestik.

Produksi batubara dalam dua dekade terakhir meningkat pesat yang puncaknya terjadi di tahun 2013. Peningkatan ini diikuti dengan melonjaknya ekspor batubara. Dalam kurun waktu 2000-2014, ekspor batu bara rata-rata mencapai 75% dari total produksi batubara nasional. Batubara dalam situasi ini dipandang tidak memberikan nilai tambah bagi industri domestik, karena hanya ditempatkan sebagai komoditas ekspor untuk menghasilkan penerimaan negara dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri (DMO). Namun, DMO selalu berkorelasi dengan penambahan kuota produksi dan ekspor. Hal ini menunjukkan komitmen yang rendah dari pemerintah Indonesia untuk melakukan pembatasan produksi batubara yang telah dimandatkan oleh dokumen perencanaan.

Kementerian ESDM mencatat produksi batu bara dalam negeri hingga tahun 2017 mencapai 461 juta ton. Angka ini mencapai 96% dari target produksi batu bara di 2017 sebesar 477 juta ton atau lebih besar dari realisasi 2016 yang sebesar 424 juta ton. Kenaikan produksi di 2017 dibanding 2016 dipengaruhi oleh harga batubara yang kembali naik.